Showing posts with label berbagi cerita. Show all posts
Showing posts with label berbagi cerita. Show all posts

Tuesday, November 13, 2012

Aku menulis bukan untuk mengejar komen


Setelah lama tak meng up date posting di blogku, aku telah kehilangan sahabat blogger yang biasa berkomentar di setiap postingku. Agak aneh mulanya, tapi…aku sadar itu konsekuensi yang harus kuterima karena lama absen dari dunia blogging. *_^

Bagi teman bloggerku yang berkunjung ke blogku atau membaca posting-postingku yang ‘sepi komentar’, pasti agak heran.

Kok??

Aku yakin mungkin di benak mereka ada yang bertanya-tanya, kok aku tetap meng up date posting di blogku meski tak ada komentar yang masuk. (Hayo, ngaku…hehehe)

Simple sekali ^_^

Alasannya….

Karena aku menulis bukan untuk mengejar komentar, atau kunjungan. Bagiku menulis adalah pekerjaan hati. Aku melakukannya karena aku menyukainya, tak perduli apakah ada umpan balik atau tidak, tak perduli apakah ada yang menanggapinya atau tidak. Bagiku…dengan menulis aku ada.

Sampai kapan aku akan terus melakukannya..?

Biar waktu yang akan menjawabnya ^-^. Yang pasti aku merasa bahagia berbagi melalui tulisanku, meski sederhana dan pendek aku harap semua yang berkunjung dan membacanya dapat terinspirasi.
READMORE - Aku menulis bukan untuk mengejar komen

Thursday, April 7, 2011

Ketika Masjid dan Rumah Bordil Roboh

ADA DUA LELAKI.  Keduanya adalah saudara kandung. Lahir di dalam keluarga yang taat beragama. Namun perilaku dua orang itu berbeda dan akhir hidup mereka juga berbeda.
                Yang tua, sejak kecil dikenal baik, alim dan ahli ibadah. Ia tidak suka menyakiti orang lain. Tidak suka hura-hura. Tak pernah menyentuh gelas minuman keras apalagi meminumnya. Waktu mudanya banyak dihabiskan di masjid. Ia juga tidak suka bergaul dengan wanita yang bukan mahramnya. Pernah ia dirayu seorang gadis cantik yang masih sepupunya, namun ia teguh dalam keimanannya. Karena amal perbuatannya yang baik dan akhlaknya yang mulia ia dicintai oleh keluarga dan masyarakat.
                Sedangkan adiknya, sangat berbeda dengan kakaknya. Sejak kecil dikenal nakal. Sejak remaja sudah biasa masuk tempat maksiat. Rumah bordil adalah tempat biasa ia mangkal. Hampir tiap hari ia mabuk dan melakukan berbagai macam maksiat di rumah bordil miliknya itu. Kadang-kadang ia juga ikut gerombolan perampok, untuk merampas harta orang lain. Saat merampok ia bahkan terkadang juga melakukan pemerkosaan. Hampir segala jenis maksiat dan perbuatan yang menjijikkan telah ia lakukan untuk memuaskan hawa nafsunya. Perbuatan jahatnya itu membuat dirinya dibenci oleh keluarga dan masyarakat.
                                                                                  ***
                Suatu ketika, sang kakak yang alim dan ahli ibadah merenung dalam kesendiriannya. Tiba-tiba dengan halus sekali nafsunya berkata padanya,
                “Sejak kecil kau selalu berbuat kebaikan dan beribadah. Kau telah mendapat tempat di hati masyarakat dan dikenal sebagai orang baik. Namun kau tidak pernah merasakan nikmatnya hidup sedikitpun. Kenapa tidak sesekali kau datang ke tempat adikmu menghibur diri di rumah bordilnya. Sesekali saja. Setelah itu kau bisa tobat. Kau bisa membaca istighfar ribuan kali dalam shalat tahajjud. Bukankah Allah itu Mahapengampun?”
                Bujukan hawa nafsunya itu ternyata masuk dalam pikirannya. Setan pun dengan sangat halus masuk melalui pori-pori dan aliran darah. Ia berkata pada diri sendiri.
                “Benar juga. Kenapa tidak sesekali menghibur diri? Hidup Cuma sekali. Nanti malam aku mau menari dan bersenang-senang bersama wanita cantik di rumah bordil adikku. Setelah itu aku pulang dan bertobat kepada Allah swt. Dia Mahapengasih lagi Mahapengampun.
                Sementara itu di rumah bordil. Adiknya juga merenung. Ia merasa jenuh dengan hidup yang dijalaninya. Nuraninya berkata,
                “Sudah bertahun-tahun aku hidup bergelimang dosa. Bermacam maksiat telah aku lakukan. Apakah aku akan hidup begini terus?Keluarga  membenciku karena perbuatanku. Juga masyarakat, mereka memusuhiku karena kejahatanku. Kenapa aku tidak mencoba hidup baik-baik seperti kakak. Ah,bagaimanakah besok kalau aku telah mati. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan perbuatanku. Kalau begini terus, kelak aku akan masuk neraka. Hidup susah di akhirat sana. Sementara kakakku akan hidup nikmat di surga. Tidak! Aku tidak boleh hidup dalam lembah maksiat terus. Aku harus mencoba hidup di jalan yang lurus. Nanti malam habis maghrib aku akan ke masjid tempat kakak beribadah. Aku mau tobat dan ikut shalat. Aku mau kembali ke pangkuan Allah swt. Aku mau beribadah sepanjang sisa hidupku. Semoga saja Allah mau mengampuni dosa-dosaku yang telah lalu.”
                                                                                   ***
                Dan benarlah. Ketika malam datang kedua saudar itu melaksanakan niatnya masing-masing. Usai shalat maghrib di masjid, sang kakak kembali ke rumah, ganti pakaian dan bergegas menuju rumah bordil. Adapun sang adik, telah pergi meninggalkan rumah bordil begitu mendengar suara azan maghrib. Jalan yang diambil dua bersaudara itu tidak sama sehingga keduanya tidak berjumpa di tengah jalan.
                Sampai di rumah bordil sang kakak mencari adiknya. Namun tidak ada. Orang-orang yang ada di rumah bordil tidak ada yang tahu kemana adiknya itu pergi. Meskipun adiknya tidak ada ia tetap melaksanakan niatnya. Nafsu telah menguasai seluruh akal pikirannya. Ia pun menuruti segala yang diinginkan nafsunya di rumah bordil itu bersama para penari dan pelacur.
                Di tempat lain, sang adik sampai di masjid tempat kakaknya biasa ibadah. Ia sudah bertekad bulat untuk tobat meninggalkan semua perbuatan buruknya. Ia mengambil air wudhu dan masuk ke dalam masjid. Ia mencari-cari kakaknya, ternyata tidak ada. Padahal biasanya kakaknya selalu beriktikaf di masjid usai maghrib sampai isya’. Ia bertanya pada penjaga masjid, namun ia tak tahu kemana perginya. Meskipun tidak ada kakaknya, niatnya telah bulat. Ia melakukan shalat dan beristighfar sebanyak-banyaknya dengan mata bercucuran air mata.
                Tiba-tiba bumi tergoncang dengan hebatnya.
                “Awas ada gempa!Ada gempa!” teriak orang-orang di jalan.
                Orang-orang panik keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri. Takut kalau-kalau rumah mereka runtuh. Sang adik yang sedang larut dalam kenikmatan tobatnya tidak beranjak dari dalam masjid. Ia tidak merasakan ada gempa. Demikian juga sang kakak yang saat itu sedang terlena di rumah bordil. Ia sama sekali tidak merasakan gempa. Goncangan gempa malam itu cukup keras. Beberapa bangunan roboh. Termasuk masjid dan rumah bordil.
                Keesokan harinya. Sang kakak ditemukan tewas di antara reruntuhan rumah bordil di samping mayat seorang penari dalam keadaan yang memalukan. Sedangkan adiknya juga ditemukan tewas di antara reruntuhan masjid. Kedua tangannya mendekap sebuah mushaf di dada.
                Masyarakat yang tahu ihwal kedua kakak beradik itu meneteskan air mata. Mereka tidak habis pikir, orang yang selama ini dikenal ahli ibadah kok bisa tewas dengan cara yang sedemikian tragis. Sedangkan adiknya yang selama ini dikenal ahli maksiat kok bisa husnul khatimah. Dengan peristiwa ini orang-orang diberi pelajaran yang sangat berharga. Bahwa kematian bisa datang kapan saja. Hanya Allah yang tahu. Maka jangan sekali-kali iseng menuruti hawa nafsu. Siapa tahu saat sedang menuruti hawa nafsu itulah maut menjemput. Na’udzubillah min dzalik. Bahwa niat baik harus selalu dijaga, agar Allah swt. Menganugerahkan akhir hidup yang indah. Akhir hidup yang diridhai-Nya.
                “Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keteguhan dan keistiqomahan berada dalam jalan-Mu. Karuniakanlah kepada kami husnul khatimah. Amin, ya Rabbal ‘Alamin.”

                                                                                     Diambil dari buku DI ATAS SAJADAH CINTA
                                                                                     Karya Habiburrahman El Shirazy
READMORE - Ketika Masjid dan Rumah Bordil Roboh

Monday, March 28, 2011

Banyak-banyak berbagi

Ketika kita sedang “merasa” sendiri, banyak-banyaklah berbagi dengan orang lain. Tindakan ini diharapkan dapat mengeleminir perasaan sendiri yang terkadang hanyalah perasaan “yang kita kondisikan sendiri”. Artinya, kita sendiri yang merasa seperti itu.
Berbagi di sini bisa banyak hal, mulai dari berbagi materi, seperti sedekah. Kemudian berbagi cerita pada sahabat terdekat atau melalui tulisan sederhana di blog seperti yang kita lakukan saat ini.
Aku pernah mendengar kalimat seperti ini, orang yang banyak berbagi, sesungguhnya mereka adalah orang yang kaya.
Logikanya masuk akal ya!
Dengan berbagi, berarti kita telah memberi “sesuatu” kepada orang lain. Nah..yang dapat berbagi itu kan logikanya “yang telah berlebih”. Atau kesimpulan sederhananya ORANG KAYA. Masuk akal juga ya??hehehe.
Berbagi cerita, misalnya. Di era yang serba mobile saat ini, teknologi memudahkan segalanya. Meski sahabat-sahabat kita nun jauh di sana, kita tetap dapat berbagi cerita, bisa melalui email, sms, atau blog.
Email, misalnya. Seakan silaturahmi tetap terjalin meski sahabat kita tak berada dekat dengan kita. Berbeda dengan blog yang terpublikasi, email sifatnya  lebih privasi. Seperti beberapa waktu lalu, saat aku mendapat email dari sahabatku semasa kuliah dulu. Isi email yang sangat relegius ini semakin mendekatkan silaturahmiku dengannya, meski kita tak satu kota lagi. Silaturahmi tetap terjalin, saling mengingatkan dan menasehati juga tetap terjadi, walau hanya lewat email.
Berasa tak sendiri pokoknya. Berbagi memang menyenangkan. Tetapi, terkadang sisi negative dari diri kita juga suka muncul, terkadang getol-getolnya berbagi, eh…di lain waktu malah super pelit, sedekah misalnya J.  Tapi paling tidak kalau memang tak bisa bersedekah materi, masih bisa sedekah dengan senyum ya? J
Yuk, banyak-banyak berbagi cerita melalui blog!
READMORE - Banyak-banyak berbagi