Ketika kita sedang “merasa” sendiri, banyak-banyaklah berbagi dengan orang lain. Tindakan ini diharapkan dapat mengeleminir perasaan sendiri yang terkadang hanyalah perasaan “yang kita kondisikan sendiri”. Artinya, kita sendiri yang merasa seperti itu.
Berbagi di sini bisa banyak hal, mulai dari berbagi materi, seperti sedekah. Kemudian berbagi cerita pada sahabat terdekat atau melalui tulisan sederhana di blog seperti yang kita lakukan saat ini.
Aku pernah mendengar kalimat seperti ini, orang yang banyak berbagi, sesungguhnya mereka adalah orang yang kaya.
Logikanya masuk akal ya!
Dengan berbagi, berarti kita telah memberi “sesuatu” kepada orang lain. Nah..yang dapat berbagi itu kan logikanya “yang telah berlebih”. Atau kesimpulan sederhananya ORANG KAYA. Masuk akal juga ya??hehehe.
Berbagi cerita, misalnya. Di era yang serba mobile saat ini, teknologi memudahkan segalanya. Meski sahabat-sahabat kita nun jauh di sana, kita tetap dapat berbagi cerita, bisa melalui email, sms, atau blog.
Email, misalnya. Seakan silaturahmi tetap terjalin meski sahabat kita tak berada dekat dengan kita. Berbeda dengan blog yang terpublikasi, email sifatnya lebih privasi. Seperti beberapa waktu lalu, saat aku mendapat email dari sahabatku semasa kuliah dulu. Isi email yang sangat relegius ini semakin mendekatkan silaturahmiku dengannya, meski kita tak satu kota lagi. Silaturahmi tetap terjalin, saling mengingatkan dan menasehati juga tetap terjadi, walau hanya lewat email.
Berasa tak sendiri pokoknya. Berbagi memang menyenangkan. Tetapi, terkadang sisi negative dari diri kita juga suka muncul, terkadang getol-getolnya berbagi, eh…di lain waktu malah super pelit, sedekah misalnya J. Tapi paling tidak kalau memang tak bisa bersedekah materi, masih bisa sedekah dengan senyum ya? J
Yuk, banyak-banyak berbagi cerita melalui blog!