Showing posts with label hati. Show all posts
Showing posts with label hati. Show all posts

Thursday, March 3, 2011

Sabar- Bersih hati

Sabar itu memang sulit untuk dijalani, mengingat kita selalu ingin menyegerakan apa yang kita inginkan. Kita hidup berdampingan dengan orang lain di lingkungan sosial,  selalu saja ada percikan-percikan kecil di hati yang membuat kita juga ingin segera mengecap keadaan yang sama baiknya dengan orang lain.

Lumrah memang. Namanya juga manusia. Setiap manusia menginginkan kebahagiaan dalam hidup ini. Bila diajukan questioner kepada kita semua, aku yakin hampir 99% dari kita ingin selalu bahagia menjalani hidup. Ingin selalu meraih setiap keinginan terbaik dalam hidup ini. Ingin segera mewujudkan kebahagiaan yang begitu indah.

Kalau bicara dari hati ke hati, tentunya itu telah menjadi keinginan setiap insan. Tetapi, bila diri kita sibuk dengan kebahagiaan orang lain. Sibuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Apakah yang kita dapat?Rasa cemas, karena diri kita tak jua sama dengan orang lain?ingin segera seperti itu?iri melihat kebahagiaan orang lain?tidak suka dengan kebahagiaan orang lain?atau beberapa penyakit hati lainnya yang mulai menjangkiti?

Ok lah. Tiap dari kita mungkin pernah terjangkiti virus hati di atas. Namun, akan lebih baik bila secara perlahan kita menata hati, membersihkan nodanya dan kembalikan semuanya kepada Sang Pencipta. 


Tuhan Maha Adil kok. Asal kita yakin, dan selalu berusaha dan berdoa kepada-Nya, insyaallah kita pun akan memperoleh kebahagiaan sama seperti orang lain. Jadi, tak perlu membebani hati dan pikiran dengan penyakit yang kita buat sendiri. Rugi kan?Harapan yang kita inginkan tak kunjung terwujud, kita malah uring-uringan. Jika demikian, apakah kebahagiaan akan kita peroleh??

Ada yang punya ide yang lebih baik?Boleh dishare di sini!Dengan senang hati ditunggu idenya:)
READMORE - Sabar- Bersih hati

Monday, January 3, 2011

Diri Manusia

Mengoreksi diri sendiri itu jauh lebih sulit ya, dibanding mengoreksi kesalahan orang lain. Akan lebih mudah hati ini menghujat kekhilafan orang lain. Akan lebih mudah bagi diri ini emosi kepada orang lain ketika mendapatkan perlakuan “tak layak” darinya.

Namun, pernahkah kita berkaca pada diri sendiri?Menyadari dengan sepenuh hati, entah berapa kali lisan dan perbuatan kita melukai orang-orang terdekat?

Terkadang atau bahkan nyaris, kita selalu mengingat kejelekan orang lain. Peribahasa ini mungkin cukup mewakili, “kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.”

Lucu…Akan tetapi, disadari maupun tidak yang sering terjadi demikian.

Ketika harga diri ini diinjak-injak bukan main marahnya, tetapi bila orang lain yang diinjak diri ini seakan tak perduli.

Hati ini mengeras. Menganggap bahwa diri kitalah yang benar. Menganggap bahwa perlakuan tersebut sama sekali tak bermasalah.

Nenekku pernah mengatakan, “kalau daging ini sakit bila dicubit, jangan mencubit orang lain!” ya.., bila merasa “sakit” mendapat perlakuan”demikian”, maka jangan memperlakukan orang lain “demikian”. Orang lain pun sama seperti kita, “tak suka mendapat perlakuan yang tak menyenangkan”.

Sederhana memang kelihatannya, namun dalam interaksi sosial hal ini sangat berpengaruh besar. 

Menghargai setiap individu sebagaimana diri ini ingin dihargai oleh orang lain, sulit sekali dilakukan. Kita inginnya dihargai, mendapat perlakuan menyenangkan, namun kita belum sepenuhnya bisa memperlakukan sesama sama seperti yang ingin kita dapatkan. Kalau begitu bagaimana semuanya bisa berbalas dengan indah?Mmm…ternyata memang susah ya, menjaga hati:)

Semua tindakan kasat mata itu semua bermula dari hati...

Makanya tak heran bila buku karangan Abuya Syeikh Asaari Muhammad At Tamimi, begitu menginspirasi sehingga tak salah bila buku tersebut menjadi best seller. Sang penulis mengangkat judul Mengenal Diri Melalui Rasa Hati.

Aku sangat tercenung mendengar salah satu kumpulan kalimat yang tertulis dalam buku ini:

Mengenal diri bukanlah sekedar menilai kecantikan, tinggi rendah, warna kulit, keturunan dan bangsa. Karena manusia sebenarnya terdiri dari dua jasad yang dipadu erat, yaitu jasad lahir dan  jasad batin. Mengenal diri artinya mengenal hakikat manusia. Hakikat manusia adalah batinnya. Tanpa hakikat, yang lahir tidak berguna.

Jasad lahir hanyalah sangkar untuk jasad batin. Kalau kita gagal mengenal batin manusia, kita akan gagal mendidik diri manusia. Jadi mengenal diri sebenarnya bukanlah mengenal rupa lahir, tapi yang lebih penting adalah mengenal watak batin, yaitu jiwa, pikiran, kebolehan, kecenderungan, watak, nafsu dan kekuatan yang ada pada diri kita.

Dengan mengetahui sifat-sifat yang ada pada diri kita, kita nanti dapat melatih diri kita dan meletakkan diri sesuai pada tempatnya. Bila tidak maka akan terjadi kerusakan di muka bumi karena kita telah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan jiwa kita. Berlakulah kejahatan, krisis jiwa dan ketegangan pikiran hingga hilanglah kebahagiaan.

Sangat menyentuh bukan, semua kalimat yang dikutip dari sang penulis, Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammmad At Tamimi?jawabannya pasti beda-beda:)
READMORE - Diri Manusia

Monday, October 4, 2010

Renunglah Selalu Perjalanan Hati

 
Renunglah selalu hati kita
Karena ia merupakan sumber kebaikan dan kejahatan
Wadah kekufuran dan keimanan
Rebutan di antara malaikat dan syaitan
Hati perasaannya halus
Sentuhannya tidak terasa
Tapi sangat member kesan di dalam kehidupan kita
Siapa yang arif perjalanan hatinya
Paham kebaikan dan kejahatannya
Bersungguh bermujahadah membuang kejahatannya
Diganti segera dengan kebaikan
Orang itu akan selamat
dari tipu daya syaitan dan dunia
Ramai orang tidak paham
perjalanan hatinya sekalipun ulama
Terima saja yang baik dan yang buruknya
Kemudian merasakan baik semuanya
tiada terasa lagi membuat dosa
Di sinilah perlu pimpinan
Guru yang mengenal hati manusia


                                                            Diambil dari Buku Mengenal Diri Melalui Rasa Hati
Karya Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi
READMORE - Renunglah Selalu Perjalanan Hati