Apa sih yang membuat orang dapat berkomunikasi satu sama lain?
Adanya alat komunikasi.
Apa itu?
Lisannya, ya...bahasa.
Dunia ini kan luas, tak hanya dihuni satu Negara. Bagaimana agar
komunikasinya lancar, mengingat tiap negara memiliki bahasanya sendiri ?
Kan ada bahasa inggris sebagai bahasa internasional.
Tepat sekali! Bahasa inggris
merupakan bahasa internasional yang menghubungkan komunikasi semua negara di
dunia. Tanpa adanya bahasa penghubung ini dengan jelas dapat diramalkan
interaksi sosial akan sulit terjalin. Lain
Padang, lain belalang. Lain Negara,
lain bahasa:) .
Kalau sudah begitu bagaimana bisa nyambung?
O.K. sekarang kita kembali fokus
pada bahasa inggris ya! Menurutku, bahasa inggris itu gampang-gampang susah.
Kenapa? Karena sebenarnya ketika kita menjawab soal-soal bahasa inggris, inti
permasalahan tak akan jauh-jauh dari grammar
dan vocabulary. Ya..selama ini, kalau
aku cermati begitulah bentuk-bentuk soal bahasa inggris mulai dari tingkat SMP
sampai Perguruan tinggi bahkan ketika mengikuti Tes Of English As a Foreign Language (TOEFL).
Aku mengatakan dari tingkat SMP,
karena pada saat zaman aku sekolah, bahasa inggris itu baru diikutkan dalam
mata pelajaran wajib, pada level pendidikan
SMP. Beda halnya dengan kurikulum sekarang, dimana sedari dini yaitu pada
pendidikan dasar anak-anak telah dikenalkan dengan bahasa inggris.
Membahas tentang bahasa inggris, awalnya
bahasa ini tak begitu menyedot perhatianku. Di awal memasuki sekolah tingkat
pertama, aku mulai belajar bahasa asing ini. Sampai sekarang masih tergambar
dengan jelas dalam memoriku, pelajaran awalnya yaitu tentang introduction, perkenalan. Saat itu kita
belajar cara memperkenalkan diri, mulai dari ungkapan yang digunakan sampai
praktek langsung secara personal ke depan kelas memperkenalkan diri pada seisi
kelas. Ketika itu, tak ada yang istimewa dalam pikiranku mengenai bahasa inggris. Hanya saja, ada hal yang menandai ketertarikanku dalam mengucapkan
bahasa inggris ini melalui hobiku yang suka mendengarkan musik.
Kecintaanku mendengarkan musik
barat membawaku pada program di salah satu radio swasta di kotaku, Palembang.
Acara itu seperti dictation, dimana pada acara ini si presenter radio membacakan lirik
lagu barat yang sedang hits-hitsnya,
kemudian aku sebagai audiencenya
mencoba menuliskannya berdasarkan lisan yang diucapkan oleh si presenter. Bila
ada kata-kata yang cukup asing atau kata-kata yang menurut si presenter agak susah
menuliskannya, maka ia akan mengejanya huruf per huruf serta mengartikan kata
tersebut dalam bahasa Indonesia sehingga aku dapat menuliskannya dengan benar.
Tak hanya itu, agar semua audience dapat memastikan bahwa lirik lagu yang
ditulis itu serupa dengan real text
lagunya maka si presenter juga mengartikan semua lirik dalam lagu tersebut ke
dalam bahasa Indonesia. Jadi sangat membantu bukan, apalagi untuk aku yang saat
itu masih duduk di bangku SMP, yang bisa dikatakan miskin perbendaharaan kata
dalam bahasa inggris.
Hingga tamat dari sekolah
menengah pertama, aku tak terpikir untuk mengambil pelajaran tambahan bahasa inggris. Aku merasa bahwa materi yang diberikan di sekolah telah cukup. Meski
demikian, melalui ketertarikanku akan musik berbahasa inggris ini secara tak langsung aku telah aktif
memperkaya vocabulary ku.
Menyenangkan bukan?Hobi yang bermuara pada hasil yang positip.
Saat memasuki sekolah menengah
atas, semua berjalan seperti biasa. Tak ada yang spesial pada yang namanya bahasa inggris dalam kacamataku. Semuanya berubah tiga ratus enam puluh derajat,
tatkala aku memiliki teman yang jago sekali bahasa inggris, baik orally maupun written.
Temanku ini pandai sekali
mengarang dalam bahasa inggris. Dan, entah secara kebetulan atau bukan, dia
juga memiliki hobi yang sama dengan aku, yaitu mendengarkan musik-musik barat.
Jadilah kami bersahabat dengan akrab. Rasanya tak ada menit yang dilewati tanpa
membahas lagu-lagu bahasa inggris yang popular saat itu. Maka kami pun sering
mendendangkan lagu tersebut bersama, dan kami saling berbagi bila salah satu
dari kami ada yang mendapatkan text
lagunya. Pernah ada text lagu yang
tak kami temukan, maka jadilah temanku ini yang hunting secara pribadi, ia secara mandiri mengoptimalkan
pendengarannya untuk mendapatkan text lagu
itu. Wow, fantastis sekali! Saat itu aku sangat kagum dengan kemampuan bahasa inggris teman dekatku ini.
Rupanya, kekagumanku ini tak
hanya sampai disini. Aku juga dibuat kagum ketika sang guru bahasa inggrisku
yang mengatakan bahwa pada ujian catur wulan saat itu, temanku ini memiliki
nilai yang tertinggi untuk mata pelajaran bahasa inggris. See.., ternyata tak hanya aku yang dibuat kagum, akan tetapi seisi
kelas pada saat itu tak terkecuali pengajar bahasa inggrisnya.
Mulai saat itu, timbul niatku
untuk secara serius memperdalam bahasa internasional ini melalui pendidikan
tambahan di luar sekolah. Akhirnya, aku pun mengambil kursus bahasa inggris
untuk memenuhi niatanku ini.
Disamping mengikuti kursus bahasa
inggris, aku berpikir bahwa agar kemampuan bahasa inggrisku menjadi meningkat
aku harus dengan aktif memperdalamnya secara mandiri, tak hanya bergantung pada
kursus saja. Maklum, yang namanya kursus itu kan durasi belajarnya hanya 2 jam
untuk satu kali pertemuan. Waktu segitu sangat terbatas, tak mungkin aku dapat
maksimal belajar, makanya disela-sela aktivitas harianku, aku memperdalamnya
lagi.
Bukanlah suatu tindakan yang
sulit untukku melakukannya, karena hobiku yang memang saling berkaitan. Seperti
melalui mendengarkan musik. Aku lebih intens mendengarkan lagu-lagu berbahasa
inggris yang memang sedang hits saat itu. Secara tak langsung, aku telah
melatih pendengaranku, juga melatih pengucapan kata dalam bahasa inggris.
Bila ada kata yang tak kumengerti, aku pun tak segan membuka kamus dan mencari
maknanya, maka bertambah pula perbendaharaan kataku dalam bahasa inggris.
Aku juga memiliki hobi membaca.
Banyak bacaan bahasa inggris yang memperkaya vocabulary ku, mulai dari majalah Cool n Smart (majalah CnS), the
Jakarta Post, serta bacaan lain yang menggunakan bahasa inggris.
Pada saat membaca, biasanya, aku
menemukan kata atau ungkapan dalam bahasa inggris yang tak kumengerti padanannya dalam bahasa indonesia, makanya
selalu ada kamus di tanganku pada saat itu. Agar, aku
tak melakukan tindakan yang sama di kemudian hari, maka setelah aku mendapatkan
arti kata yang aku cari, aku mencatatnya pada kertas kecil dan aku selipkan
tepat pada bacaan yang mengandung arti kata tadi sehingga pada beberapa waktu
kemudian, ketika membaca kembali bacaan tadi, aku tinggal mereviewnya.
Semakin sering diulas, maka otak
kita juga semakin terpacu untuk mengingat makna setiap kata-kata dalam bahasainggris. Makanya aku sering mengulangi bacaan-bacaan itu sambil membuka kembali
catatan kecil yang terselip di dalamnya. Makin lama vocabularyku makin bertambah. Ini sangat membantuku dalam membaca
semua hal yang berbau bahas inggris sehingga aku tak terlalu sering bergantung
pada kamus.
Dalam belajar bahasa inggris, aku
juga berusaha melatih pendengaranku melalui film-film yang berbahasa inggris.
Biasanya, setiap film tersebut pasti tampil text
bahasa indonesianya pada layar kaca bersamaan pada saat sebuah dialog terjadi.
Untuk kasus seperti ini, aku berusaha tegas untuk tak melihat hasil translatenya pada layar kaca. Aku
mencoba memahami jalan cerita film berdasarkan daya tangkapku pada setiap
percakapan yang terjadi.
Aku juga senang menyewa VCD film
barat, dan alhamdulilah…kebanyakan VCD film yang kusewa tak menampilkan text bahasa Indonesia dalam setiap
dialognya. Keadaan ini sangat membantuku melatih listening. Tapi, ada jeleknya juga. Gara-gara setiap pemain berbicara dengan cepatnya,
aku jadi beberapa kali menekan tombol ‘’back”
pada remote vcd player, agar aku dapat
mendengar kembali percakapan sebelumnya sehingga alur ceritanya dapat kupahami
dengan jelas:)
Aku juga jadi aktif berbicara
bahasa inggris secara mandiri. Melalui walkman
pribadiku, aku membeli kaset kosong dan merekam suaraku ketika berbicara bahasa inggris. Tak perlu mengangkat topik yang sulit, cukup hal yang sederhana, yang
penting secara perlahan, aku telah melatih bahasa inggrisku secara aktif.
Menulis juga membantuku dalam memperdalam
bahasa inggris. Melalui catatan-catatan tentang suasana hatiku, aku mencoba
menumpahkannya dalam bahasa inggris. Aku juga mencoba mencatat materi-materi
kuliahku dalam bahasa inggris. Bukan maksud hati untuk pamer, tapi aku mencoba
agar kemampuan bahasa inggrisku tak hilang begitu saja. Apalagi, mengingat
untuk mendapatkan kemampuan itu banyak pengorbanan. Diawali dari materi, waktu,
pikiran dan tenaga. Ditambah lagi, jika aku mengingat bagaimana sulitnya aku
membagi waktu antara kuliah yang sedang padat-padatnya dengan jadwal kursus
bahasa inggris hingga akhirnya penderitaan itu berakhir tepat pada pertengahan
semester 4 kuliahku yaitu di tahun 2003, aku berhasil menamatkan kursus bahasa
Inggrisku.
Makanya aku tak ingin kemampuan bahasa inggrisku hilang seiring dengan telah
rampungnya kursus bahasa inggrisku. Lagi juga, yang namanya bahasa itu harus
dilatih terus agar tetap lengket. Alangkah sayangnya, jika hanya selembar
sertifikat yang aku miliki tanpa disertai dengan kemampuan di dalamnya. Apalah
artinya selembar kertas bila ketika diuji hasilnya nihil. Malu kan?:). Akan lebih baik agar antara sertifikat dan kemampuan yang aku miliki sinkron. Practice makes perfect!
Bagaimana setuju dengan ide
sederhana ini?Atau sobat punya pengalaman sendiri?