Thursday, January 6, 2011

Aku, Temanku dan Bahasa Inggris

Apa sih yang membuat orang dapat berkomunikasi satu sama lain?
Adanya alat komunikasi.

Apa itu?
Lisannya, ya...bahasa.

Dunia ini kan luas, tak hanya dihuni satu Negara. Bagaimana agar komunikasinya lancar, mengingat tiap negara memiliki bahasanya sendiri ?
Kan ada bahasa inggris sebagai bahasa internasional.

Tepat sekali! Bahasa inggris merupakan bahasa internasional yang menghubungkan komunikasi semua negara di dunia. Tanpa adanya bahasa penghubung ini dengan jelas dapat diramalkan interaksi sosial akan sulit terjalin. Lain Padang, lain belalang. Lain Negara, lain bahasa:) . Kalau sudah begitu bagaimana bisa nyambung?

O.K. sekarang kita kembali fokus pada bahasa inggris ya! Menurutku, bahasa inggris itu gampang-gampang susah. Kenapa? Karena sebenarnya ketika kita menjawab soal-soal bahasa inggris, inti permasalahan tak akan jauh-jauh dari grammar dan vocabulary. Ya..selama ini, kalau aku cermati begitulah bentuk-bentuk soal bahasa inggris mulai dari tingkat SMP sampai Perguruan tinggi bahkan ketika mengikuti Tes Of English As a Foreign Language (TOEFL).

Aku mengatakan dari tingkat SMP, karena pada saat zaman aku sekolah, bahasa inggris itu baru diikutkan dalam mata pelajaran wajib,  pada level pendidikan SMP. Beda halnya dengan kurikulum sekarang, dimana sedari dini yaitu pada pendidikan dasar anak-anak telah dikenalkan dengan bahasa inggris.

Membahas tentang bahasa inggris, awalnya bahasa ini tak begitu menyedot perhatianku. Di awal memasuki sekolah tingkat pertama, aku mulai belajar bahasa asing ini. Sampai sekarang masih tergambar dengan jelas dalam memoriku, pelajaran awalnya yaitu tentang introduction, perkenalan. Saat itu kita belajar cara memperkenalkan diri, mulai dari ungkapan yang digunakan sampai praktek langsung secara personal ke depan kelas memperkenalkan diri pada seisi kelas. Ketika itu, tak ada yang istimewa dalam pikiranku mengenai bahasa inggris. Hanya saja, ada hal yang menandai ketertarikanku dalam mengucapkan bahasa inggris ini melalui hobiku yang suka mendengarkan musik.

Kecintaanku mendengarkan musik barat membawaku pada program di salah satu radio swasta di kotaku, Palembang. Acara  itu seperti dictation, dimana pada acara ini si presenter radio membacakan lirik lagu barat yang sedang hits-hitsnya, kemudian aku sebagai audiencenya mencoba menuliskannya berdasarkan lisan yang diucapkan oleh si presenter. Bila ada kata-kata yang cukup asing atau kata-kata yang menurut si presenter agak susah menuliskannya, maka ia akan mengejanya huruf per huruf serta mengartikan kata tersebut dalam bahasa Indonesia sehingga aku dapat menuliskannya dengan benar. Tak hanya itu, agar semua audience dapat memastikan bahwa lirik lagu yang ditulis itu serupa dengan real text lagunya maka si presenter juga mengartikan semua lirik dalam lagu tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Jadi sangat membantu bukan, apalagi untuk aku yang saat itu masih duduk di bangku SMP, yang bisa dikatakan miskin perbendaharaan kata dalam bahasa inggris.

Hingga tamat dari sekolah menengah pertama, aku tak terpikir untuk mengambil pelajaran tambahan bahasa inggris. Aku merasa bahwa materi yang diberikan di sekolah telah cukup. Meski demikian, melalui ketertarikanku akan musik berbahasa inggris  ini secara tak langsung aku telah aktif memperkaya vocabulary ku. Menyenangkan bukan?Hobi yang bermuara pada hasil yang positip.

Saat memasuki sekolah menengah atas, semua berjalan seperti biasa. Tak ada yang spesial pada yang namanya bahasa inggris dalam kacamataku. Semuanya berubah tiga ratus enam puluh derajat, tatkala aku memiliki teman yang jago sekali bahasa inggris, baik orally maupun written.

Temanku ini pandai sekali mengarang dalam bahasa inggris. Dan, entah secara kebetulan atau bukan, dia juga memiliki hobi yang sama dengan aku, yaitu mendengarkan musik-musik barat. Jadilah kami bersahabat dengan akrab. Rasanya tak ada menit yang dilewati tanpa membahas lagu-lagu bahasa inggris yang popular saat itu. Maka kami pun sering mendendangkan lagu tersebut bersama, dan kami saling berbagi bila salah satu dari kami ada yang mendapatkan text lagunya. Pernah ada text lagu yang tak kami temukan, maka jadilah temanku ini yang hunting secara pribadi, ia secara mandiri mengoptimalkan pendengarannya untuk mendapatkan text lagu itu. Wow, fantastis sekali! Saat itu aku sangat kagum dengan  kemampuan bahasa inggris teman dekatku ini.

Rupanya, kekagumanku ini tak hanya sampai disini. Aku juga dibuat kagum ketika sang guru bahasa inggrisku yang mengatakan bahwa pada ujian catur wulan saat itu, temanku ini memiliki nilai yang tertinggi untuk mata pelajaran bahasa inggris. See.., ternyata tak hanya aku yang dibuat kagum, akan tetapi seisi kelas pada saat itu tak terkecuali  pengajar bahasa inggrisnya.

Mulai saat itu, timbul niatku untuk secara serius memperdalam bahasa internasional ini melalui pendidikan tambahan di luar sekolah. Akhirnya, aku pun mengambil kursus bahasa inggris untuk memenuhi niatanku ini.
Disamping mengikuti kursus bahasa inggris, aku berpikir bahwa agar kemampuan bahasa inggrisku menjadi meningkat aku harus dengan aktif memperdalamnya secara mandiri, tak hanya bergantung pada kursus saja. Maklum, yang namanya kursus itu kan durasi belajarnya hanya 2 jam untuk satu kali pertemuan. Waktu segitu sangat terbatas, tak mungkin aku dapat maksimal belajar, makanya disela-sela aktivitas harianku, aku memperdalamnya lagi.

Bukanlah suatu tindakan yang sulit untukku melakukannya, karena hobiku yang memang saling berkaitan. Seperti melalui mendengarkan musik. Aku lebih intens mendengarkan lagu-lagu berbahasa inggris  yang memang sedang hits saat itu. Secara tak langsung, aku telah melatih pendengaranku,  juga  melatih pengucapan kata dalam bahasa inggris. Bila ada kata yang tak kumengerti, aku pun tak segan membuka kamus dan mencari maknanya, maka bertambah pula perbendaharaan kataku  dalam bahasa inggris.

Aku juga memiliki hobi membaca. Banyak bacaan bahasa inggris yang memperkaya vocabulary ku, mulai dari majalah Cool n Smart (majalah CnS), the Jakarta Post, serta bacaan lain yang menggunakan bahasa inggris

Pada saat membaca, biasanya, aku menemukan kata atau ungkapan dalam bahasa inggris yang tak kumengerti padanannya dalam bahasa indonesia, makanya selalu ada kamus di tanganku pada saat itu. Agar, aku tak melakukan tindakan yang sama di kemudian hari, maka setelah aku mendapatkan arti kata yang aku cari, aku mencatatnya pada kertas kecil dan aku selipkan tepat pada bacaan yang mengandung arti kata tadi sehingga pada beberapa waktu kemudian, ketika membaca kembali bacaan tadi, aku tinggal mereviewnya. 

Semakin sering diulas, maka otak kita juga semakin terpacu untuk mengingat makna setiap kata-kata dalam bahasainggris. Makanya aku sering mengulangi bacaan-bacaan itu sambil membuka kembali catatan kecil yang terselip di dalamnya. Makin lama vocabularyku makin bertambah. Ini sangat membantuku dalam membaca semua hal yang berbau bahas inggris sehingga aku tak terlalu sering bergantung pada kamus.

Dalam belajar bahasa inggris, aku juga berusaha melatih pendengaranku melalui film-film yang berbahasa inggris. Biasanya, setiap film tersebut pasti tampil text bahasa indonesianya pada layar kaca bersamaan pada saat sebuah dialog terjadi. Untuk kasus seperti ini, aku berusaha tegas untuk tak melihat hasil translatenya pada layar kaca. Aku mencoba memahami jalan cerita film berdasarkan daya tangkapku pada setiap percakapan yang terjadi.

Aku juga senang menyewa VCD film barat, dan alhamdulilah…kebanyakan VCD film yang kusewa tak menampilkan text bahasa Indonesia dalam setiap dialognya. Keadaan ini sangat membantuku melatih listening. Tapi, ada jeleknya juga.  Gara-gara setiap pemain berbicara dengan cepatnya, aku jadi beberapa kali menekan tombol ‘’back” pada remote vcd player, agar aku dapat mendengar kembali percakapan sebelumnya sehingga alur ceritanya dapat kupahami dengan jelas:)

Aku juga jadi aktif berbicara bahasa inggris secara mandiri. Melalui walkman pribadiku, aku membeli kaset kosong dan merekam suaraku ketika berbicara bahasa inggris. Tak perlu mengangkat topik yang sulit, cukup hal yang sederhana, yang penting secara perlahan, aku telah melatih bahasa inggrisku secara aktif.

Menulis juga membantuku dalam memperdalam bahasa inggris. Melalui catatan-catatan tentang suasana hatiku, aku mencoba menumpahkannya dalam bahasa inggris. Aku juga mencoba mencatat materi-materi kuliahku dalam bahasa inggris. Bukan maksud hati untuk pamer, tapi aku mencoba agar kemampuan bahasa inggrisku tak hilang begitu saja. Apalagi, mengingat untuk mendapatkan kemampuan itu banyak pengorbanan. Diawali dari materi, waktu, pikiran dan tenaga. Ditambah lagi, jika aku mengingat bagaimana sulitnya aku membagi waktu antara kuliah yang sedang padat-padatnya dengan jadwal kursus bahasa inggris hingga akhirnya penderitaan itu berakhir tepat pada pertengahan semester 4 kuliahku yaitu di tahun 2003, aku berhasil menamatkan kursus bahasa Inggrisku. 

Makanya aku tak ingin kemampuan  bahasa inggrisku hilang seiring dengan telah rampungnya kursus bahasa inggrisku. Lagi juga, yang namanya bahasa itu harus dilatih terus agar tetap lengket. Alangkah sayangnya, jika hanya selembar sertifikat yang aku miliki tanpa disertai dengan kemampuan di dalamnya. Apalah artinya selembar kertas bila ketika diuji hasilnya nihil. Malu kan?:). Akan lebih baik agar antara sertifikat dan kemampuan yang aku miliki sinkron. Practice makes perfect!

Bagaimana setuju dengan ide sederhana ini?Atau sobat punya pengalaman sendiri?

artikel ini didukung oleh belajar hipnotis




READMORE - Aku, Temanku dan Bahasa Inggris

Monday, January 3, 2011

Diri Manusia

Mengoreksi diri sendiri itu jauh lebih sulit ya, dibanding mengoreksi kesalahan orang lain. Akan lebih mudah hati ini menghujat kekhilafan orang lain. Akan lebih mudah bagi diri ini emosi kepada orang lain ketika mendapatkan perlakuan “tak layak” darinya.

Namun, pernahkah kita berkaca pada diri sendiri?Menyadari dengan sepenuh hati, entah berapa kali lisan dan perbuatan kita melukai orang-orang terdekat?

Terkadang atau bahkan nyaris, kita selalu mengingat kejelekan orang lain. Peribahasa ini mungkin cukup mewakili, “kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.”

Lucu…Akan tetapi, disadari maupun tidak yang sering terjadi demikian.

Ketika harga diri ini diinjak-injak bukan main marahnya, tetapi bila orang lain yang diinjak diri ini seakan tak perduli.

Hati ini mengeras. Menganggap bahwa diri kitalah yang benar. Menganggap bahwa perlakuan tersebut sama sekali tak bermasalah.

Nenekku pernah mengatakan, “kalau daging ini sakit bila dicubit, jangan mencubit orang lain!” ya.., bila merasa “sakit” mendapat perlakuan”demikian”, maka jangan memperlakukan orang lain “demikian”. Orang lain pun sama seperti kita, “tak suka mendapat perlakuan yang tak menyenangkan”.

Sederhana memang kelihatannya, namun dalam interaksi sosial hal ini sangat berpengaruh besar. 

Menghargai setiap individu sebagaimana diri ini ingin dihargai oleh orang lain, sulit sekali dilakukan. Kita inginnya dihargai, mendapat perlakuan menyenangkan, namun kita belum sepenuhnya bisa memperlakukan sesama sama seperti yang ingin kita dapatkan. Kalau begitu bagaimana semuanya bisa berbalas dengan indah?Mmm…ternyata memang susah ya, menjaga hati:)

Semua tindakan kasat mata itu semua bermula dari hati...

Makanya tak heran bila buku karangan Abuya Syeikh Asaari Muhammad At Tamimi, begitu menginspirasi sehingga tak salah bila buku tersebut menjadi best seller. Sang penulis mengangkat judul Mengenal Diri Melalui Rasa Hati.

Aku sangat tercenung mendengar salah satu kumpulan kalimat yang tertulis dalam buku ini:

Mengenal diri bukanlah sekedar menilai kecantikan, tinggi rendah, warna kulit, keturunan dan bangsa. Karena manusia sebenarnya terdiri dari dua jasad yang dipadu erat, yaitu jasad lahir dan  jasad batin. Mengenal diri artinya mengenal hakikat manusia. Hakikat manusia adalah batinnya. Tanpa hakikat, yang lahir tidak berguna.

Jasad lahir hanyalah sangkar untuk jasad batin. Kalau kita gagal mengenal batin manusia, kita akan gagal mendidik diri manusia. Jadi mengenal diri sebenarnya bukanlah mengenal rupa lahir, tapi yang lebih penting adalah mengenal watak batin, yaitu jiwa, pikiran, kebolehan, kecenderungan, watak, nafsu dan kekuatan yang ada pada diri kita.

Dengan mengetahui sifat-sifat yang ada pada diri kita, kita nanti dapat melatih diri kita dan meletakkan diri sesuai pada tempatnya. Bila tidak maka akan terjadi kerusakan di muka bumi karena kita telah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan jiwa kita. Berlakulah kejahatan, krisis jiwa dan ketegangan pikiran hingga hilanglah kebahagiaan.

Sangat menyentuh bukan, semua kalimat yang dikutip dari sang penulis, Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammmad At Tamimi?jawabannya pasti beda-beda:)
READMORE - Diri Manusia

Thursday, December 30, 2010

Ikhlas; Salah Satu Kunci Menjalani Hidup

Hidup memang tak selalu diisi dengan keceriaan. Air mata akan selalu menjadi bagian dari umat ciptaan Ilahi. Pada saat kita diuji dengan tangisan, mungkin di seberang sana sahabat kita justru tengah riuh dengan gelak tawa. Namun, apa yang terjadi beberapa waktu kemudian?

Ya, kita pun mendapat giliran untuk turut menikmati tertawa itu. Menikmati betapa bahagianya menjalani hidup setelah begitu banyak airmata yang terkuras.

Sebaliknya sahabat kita yang tertawa di ujung sana, saat ini sedang berusaha bersabar, menghadapi ujian berupa musibah dari Sang Maha Empunya diri tersebut. Tak ada lagi tawa riang yang waktu itu selalu mengisi hari-harinya. Yang terlalu ditonjolkan adalah wajah yang muram durja.

Begitulah, alur hidup manusia. Semua secara bergiliran menghampiri diri kita. Kadang, kita diuji dengan kenikmatan, kadang diuji dengan musibah. Keduanya tak akan kekal menghampiri setiap anak adam. Apa makna tersirat dari peristiwa tersebut?hanya mereka yang memiliki keimanan yang tangguh yang dapat bersabar  meniti kehidupan di dunia ini. Mereka yang  yakin bahwa Sang Pencipta selalu ada dalam setiap langkah hidup-Nya.

Pasti telinga kita tak akan asing dengan kalimat , “roda ini berputar, kadang di atas, kadang di bawah
Dalam Alquran surat Albaqarah:155-156, dituliskan:
           
           “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.


Dalam pemikiranku, ikhlas merupakan salah satu kunci agar kita dapat menjalani hidup ini dengan sempurna, meski diterpa dengan musibah yang menguras tangis airmata. Tak ada kata yang lebih bijak daripada ikhlas. Ikhlas, ikhlas dan ikhlas. Mudah memang mengucapkannya, namun mengaplikasikannya dalam tiap diri tak semudah membalikkan telapak tangan. Tak segampang ketika kita menggerakkan bibir kita sehingga terdengar kata ;“harus ikhlas !”

Tapi, meski kita mati-matian tak ingin “ikhlas” dengan keadaan itu, toh keadaan yang telah menyapa kita itu tak akan bisa berubah. Masihkah kita tak ingin “ikhlas” dengan kondisi tak menyenangkan itu?

Jawabannya tentu ada pada setiap diri. Semua pilihan ada di tangan kita sendiri. Life must go on, friends:).Hidup harus terus berjalan, sobat!

Tulisan ini tiba-tiba saja bersarang di otakku, entah mungkin karena syaraf-syaraf otakku terinspirasi dari beberapa cerita yang mengharukan dari aktivitas blogwalkingku. Makanya, sebelum ide itu berhembus tanpa meninggalkan jejak sedikitpun, aku segera mempatenkannya melalui tulisan sederhana ini. Semoga banyak hikmah (khususnya untuk diriku sendiri) yang dapat  dipetik :)
READMORE - Ikhlas; Salah Satu Kunci Menjalani Hidup

Monday, December 27, 2010

Persahabatan; putus?

Kenapa Persahabatan bisa putus?
Karena kadang kita sama-sama berpikir :
“ah..Mungkin dia lagi sibuk…”
Akhirnya gak jadi sms
Terkadang, kita berpikir takut ngeganggu…
Lama-kelamaan..
Jadi cuek..
Akhirnya muncul pemikiran :
Ngapain sih gua yang hubungi dia duluan??
Kalau sudah begini, cinta kasih dalam persahabatan sudah berkurang?
Alhasil tidak ada lagi hubungan…
Semuanya jadi lupa,
Komunikasi sangatlah penting dalam hubungan dengan teman, keluarga maupun Allah..
Biar kita selalu dekat dengan semua..
Itulah jadi alasanku, kenapa aku mengirimkan message ini
Itu tandanya, aku gak pernah lupa sama SAHABAT

                                                                                         Sumber : dari sms teman


Setelah dibaca berulang-ulang dan diresapi maknanya, sepenggal pesan di atas memang benar adanya. Ketika tiap dari diri kita lulus dari satu sekolah kemudian melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, maka secara otomatis intensitas silaturahmi kita pada sahabat terdahulu menjadi berkurang. Kesibukan aktivitas di tempat yang baru, suasana yang baru, lingkungan serta wajah-wajah yang baru membuat kita perlahan-lahan melupakan sahabat terdahulu kita. Wajar memang. Ditambah komunikasi sekedar “say hi” pun jarang kita lakukan. Bisa jadi alasan yang terjabar di atas menjadi salah satunya penyebabnya.


Padahal, kalau dipikir-pikir sekarang ini kan dunia begitu maju, teknologi juga semakin mutakhir. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menyambung kembali silaturahmi yang nyaris putus tersebut. Tapi, entahlah..apa kesibukan yang sedemikiannya, ditambah lagi dengan pola pikir yang kurang lebih sama  pada tulisan di atas?Mungkin saja.., tiap individu pasti punya alasannya sendiri, bukan?
READMORE - Persahabatan; putus?

Thursday, December 23, 2010

Aku dan Hatiku

Susah sekali menjaga hati ini. Hati ini ibarat bunglon yang beruba-ubah. Ya, sejujurnya hatiku juga demikian. Kadang hati ini indah, bahagia penuh dengan cahaya, prasangka positip, akan tetapi ketika gelombang kehidupan menghantam, sebagai manusia yang penuh dengan kelemahan dan keterbatasan, hatiku pun ikut terguncang oleh gelombang tersebut.

Mungkin itulah aroma kehidupan yang tak selamanya nikmat untuk dicicipi. Namun, mau apa lagi?Mungkin dengan rusaknya hatiku untuk sesaat, aku lebih bisa memaknai bagaimana rasanya emosi seseorang ketika merasa “dikerdilkan”, bagaimana rasanya kesedihan mendera sehingga membuat rona wajah yang indah menjadi muram durja.

Sejatinya, ketika hatiku berada di tengah terjangan gelombang yang tak menyenangkan ini, ada dua pihak yang sedang berperang saat itu. Dua oposisi yang misinya bertolak belakang. Akan tetapi, bila salah satu oposisi ini berada di atas angin maka efeknya sangat besar pada tindakanku. Ya..akibat peperangan dua kubu inilah maka pada akhirnya kubu yang jatuh sebagai pemenanglah yang lebih dominan implementasinya pada aktivitasku.

Dan….kubu itu adalah kubu kebaikan dan kubu kejahatan. Suara kebaikan dan suara kejahatan. Siapakah yang mewakili keduanya?siapakah cerminan keduanya?

Lazimnya telinga kita pasti sering mendengar kedua kata ini; syaitan dan malaikat. Malaikat mencerminkan suara kebaikan. Syaitan mewakili suara kejahatan. Atau jika diilustrasikan dengan warna, si hitam dan si putih. Putih merujuk pada nilai kebaikan,suci, bersih yang cocok ditujukan pada aktivitas kebaikan, yaitu malaikat. Sedang si hitam, tak ayal lagi lebih mendominasi hal-hal yang buruk, negatif yang selalu menjadi aktivitas syaitan hingga akhir zaman. Tarik menarik di antara keduanya yang akan berujung pada implementasi tindakan riil ku.

Bukan rahasia umum, kalau hatiku dan hati setiap manusia ini merupakan tempat, sumber dari segala hal. Hati yang menggerakan seluruh anggota badan untuk bergerak melakukan tindakan yang diinginkan. Rasulullah SAW bersabda : 

    Dalam diri anak Adam itu ada segumpal daging. Bila baik daging itu baiklah seluruh    anggota dan seluruh jasad. Bila jahat dan busuk daging itu jahatlah seluruh jasad.     Ketahuilah, itulah hati.
                                                                             (Hadits Riwayat Al-Bukhari & Muslim)

Sekarang, untuk sesaat hatiku sungguh-sungguh tak baik, hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku harus segera membersihkan hatiku ini.  Meski memang aku akui tak gampang, tapi aku harus berusaha. Jangan sampai kotoran “tak baik” ini bertambah legam. Akan semakin baik, bila seseringmungkin aku membersihkan hatiku. Tak hanya baik buat diriku, akan tetapi juga orang-orang yang ada disekitarku. Wallahualam.

READMORE - Aku dan Hatiku

Monday, December 20, 2010

Susah-susah gampang.

Menulis itu susah susah gampang. Dibilang susah karena rasanya mencari yang namanya ‘ide” itu sulit sekali. Terkadang udah di depan computer atau di atas kertas dan di ujung pena berjam-jam, namun ide belum keluar juga. Coret sana, coret sini belum juga ada yang pas. Dibilang gampang, terkadang ketika kita menghadapi kejadian yang dahsyat, baik itu yang tiba-tiba mengenakkan hati atau menyedihkan hati, kita seakan timbul ide meluap-luap untuk segera ditumpahkan. Rasa kesalkah atau bahagiakah, seperti ketika kita melampiaskannya dengan kata-kata, begitu mudah mengalir.

Sama halnya, ketika ada seminar. Awalnya, setelah mendengarkan seminar tersebut, atau membaca makalah singkat yang diberikan oleh sang pembicara. Otak kita belum terlalu konek, apalagi jika seminarnya rada panjang plus makalahnya juga agak panjang, rasanya agak malas untuk bertanya (ups..masalahnya malas membacanya). Tetapi, ketika ada seseorang bertanya kemudian dijawab oleh pembicara. Api bertanya mulai tersulut. Biasanya, tanya jawab ini mulai menarik untuk diikuti. Satu per satu sanggahan, kesetujuan atau input atas pertanyaan mulai berkembang. Hasilnya…ya suasana mulai hidup. Seminar berlalu tanpa disadari. Satu jam berlalu, dua jam terlewati dan terkadang waktunya terus molor sesuai dengan yang dijadwalkan. Kalau sudah begini, rasanya tak terasa lagi waktu itu. Nah, biasanya suatu seminar itu selalu ada jadwal pasnya. Pasti bakal keki berat bila ditengah titik peperangan pendapat, tiba-tiba seminar harus ditutup. Ya… Tapi, jangan khawatir, sang moderator selalu mencoba menyimpulkan bahasan yang telah berlalu.

Nah, begitulah aktivitas menulis. Pas awalnya, agak sulit, tapi setelah kita menulis terus apa yang kita rasa, mengalir begitu adanya. Pasti, di hati kita tiba-tiba timbul pertanyaan yang membantu tulisan kita, Satu demi satu pertanyaan yang ada di pikiran kita terbayang, ada jawabannya, sehingga menambah bahan untuk menulis. Satu halaman, terus lanjut ke halaman berikutnya, terusss… dan akhirnya tak terasa jadi full tiga lembar halaman HVS.

Begitu otak dan jari kita merasa full, dan semuanya stop. Baru kita baca lagi dari awal, sampai akhir. Biasanya ketika membaca ini, banyak revisi yang kita lakukan, mulai dari misstype (kalau kita langsung mengetik pake komputer, kesalahan pengetikan lumrah terjadiJ), susunan kata yang dirasa kurang pas, atau bahkan susunan paragraph yang dipikir agak terbalik letaknya. Nah, mulailah kita merapikannya, membacanya berulang-ulang sampai semuanya kita pikir “Klop”.

Tapi, ketika kita minta orang lain membacanya, mereka pasti punya pendapat yang lain, apalagi jika orang yang kita mintai tolong itu wawasannya cukup luas. Wah…gak ketulungan kritiknyaJ. Tapi, jangan buru-buru bertekuk wajah kita. Dengarin dulu ide mereka, siapa tau bisa jadi ide untuk tulisan berikutnya. Maksudnya?Ya, ide di kepala sahabat kita itu bisa jadi ide untuk topik yang lain. Bukan tidak mungkin kan?jadi kira-kira idenya ada dua. Bener gak?pengalamanku sih suka begitu. Niatnya Cuma minta dikoreksi tulisan kita, eh malah diotakku jadi ide lagi buat tulisan lainnya.

Jadi, berbagi ke orang lain bisa jadi bank ide juga buat tulisan:)



READMORE - Susah-susah gampang.

Wednesday, December 15, 2010

Hikmah dibalik salah satu kejadian hidupku

Waktu itu selalu bergerak maju, berputar hingga genap satu hari. Hari demi hari pun berlalu tak terasa telah menggenapi satu bulan. Bulan demi bulan juga terus berganti dan sekarang telah memasuki bulan desember, bulan paling akhir di tahun 2010. Sejatinya banyak hal yang berubah pada tiap individu.

Secara jujur, aku akui bahwa di tahun ini bukan hanya usiaku yang di dunia ini bertambah, melainkan pengalaman hidupku juga bertambah. Banyak kejadian yang hikmahnya hanya aku yang dapat menyimpulkannya. Ya jelas ya?kan yang mengalaminya diriku sendiri:)

Namun, sayangnya pengalaman hidup itu tak mungkin diketahui orang lain, kecuali jika aku secara personal membaginya. Walaupun begitu, aku yakin tiap orang juga seperti diriku memiliki beraneka pengalaman di sepanjang tahun 2010 ini, baik itu suka maupun duka. Sejatinya, diri kitalah yang dapat dengan arif menarik pesan tersirat dari semua peristiwa yang telah berlalu itu.

Hidup itu akan berarti dan bermakna jika kita sendiri yang memaknainya. Maksudnya, tiap orang pasti menemui kejadian yang berbeda, sebenarnya kejadian itu memiliki pesan yang tersimpan jika saja “yang mengalami kejadian itu” dapat memaknainya.

Aku pribadi berusaha memutar otakku, merenungkan kejadian yang telah berlalu dan hal-hal yang kulakukan di sepanjang tahun 2010 ini. Sekarang renunganku berfokus pada hobi yang kumiliki. Aku itu orangnya suka sekali membaca. Semua buku yang bermanfaat, baik itu cerpen, novel, literature atau buku-buku yang menginspirasi setiap pembaca pasti memiliki daya tarik tersendiri di hatiku.

Makanya tak heran kalau koleksi bukuku itu lumayan banyak. Namun, sekarang  pikiranku tertuju pada koleksi buku yang kumiliki. Entah kenapa, tiba-tiba perhatianku tertuju pada tumpukan buku di kamarku. Hatiku lalu tergerak untuk mengamatinya. Setelah aku perhatikan, ternyata koleksi buku bacaanku bertambah pesat, yaitu sebanyak 9 buah buku. Aku bisa memastikan bahwa kesembilan buku tersebut aku koleksi disepanjang tahun 2010 ini. Mengapa aku bisa berkata demikian? Jawabnya sederhana, karena suatu kebiasaan yang  selalu aku lakukan jika membeli suatu buku ialah selalu menyampulnya dan tak lupa memberikan identitasku yang berupa tandatangan sekaligus tanggal dibelinya buku tersebut. Maka, sangat mudah bagiku untuk mengenali kapan tepatnya sebuah buku milikku itu dibeli.

Setelah aku kalkulasikan, anggaran yang telah kuhabiskan untuk kesembilan buku itu sangat fantastis. Sesaat, aku baru tersadarkan bahwa aku memiliki sifat yang tak bisa mengendalikan diri jika berhadapan yang namanya buku.

Aku bisa menyimpulkan seperti itu karena setelah kuingat-kuingat,  saat membeli ke sembilan buku tersebut, sama sekali tak terencana sebelumnya. Telah menjadi kebiasaanku ketika berjalan ke suatu mall atau department store, aku selalu menyempatkan diri ke toko buku, meski hanya sekedar membaca. Dari awal memasuki toko buku sebenarnya  tak terpikir untuk membeli buku, niatnya hanya sekedar mambaca. Namun sepertinya, aku tak dapat mengendalikan hasratku untuk tak memboyong buku tersebut jika aku telah terlanjur tertarik dengan isinya, makanya jadilah buku itu berpindah ke rumahku.

Selain tak dapat mengendalikan diri untuk membeli buku yang menurutku kontennya menarik, ternyata bila aku analisis, aku juga terlalu berlebihan membawa uang ketika ingin jalan ke mall atau pusat perbelanjaan. Akibatnya ya banyak barang tak terduga yang aku beli, contohnya seperti buku tadi. Sebenarnya, meski aku tertarik sama isi buku itu, dan ingin sekali memilikinya, tak akan pernah secara setengah sadar aku membelinya bila uangku tak cukup untuk membelinya. Tetapi, karena aku selalu membawa uang yang agak lebih ketika akan pergi jalan, makanya aku seakan mengulangi hal yang sama berturut-turut. Mengapa aku katakan kesalahan yang sama?karena kesembilan buku  tersebut aku beli tanpa perencanaan sebelumnya.

Aku bukannya menyesal telah membeli buku itu, bagiku jika sesuatu itu telah terjadi, jangan disesali. Penyesalan hanya akan membuat otakku bertambah penat, ujung-ujungnya aku sendiri dicekam rasa yang tak mengenakkan. Aku juga yang ruginya. Ya..diikhlaskan saja, toh semua telah terjadi. Hanya saja, aku mencoba mengoreksi hal yang kurang baik ini sehingga ini dapat menjadi kaca bagiku di kemudian hari, yaitu berpikir sebelum bertindak.

Meski demikian, aku tetap mendapat manfaat positip dari kesembilan buku itu. Mau tahu?

Jawabnya sederhana, dengan bertambahnya koleksi bukuku, artinya wawasanku juga bertambah. Membaca itu adalah gudang ilmu. Dengan banyak membaca maka akan semakin banyak juga pengetahuanku, apalagi buku-buku yang aku beli itu memang buku yang bermanfaat.

Tapi, sekarang kan dunianya internet. Buat apa buang-buang uang untuk membeli buku?

Iya memang benar, sekarang informasi dapat diakses tanpa batas melalui internet. Namun, memiliki buku bacaan secara personal itu memiliki nilai plus sendiri. Contohnya, jika kita ingin menulis makalah, atau tulisan yang membutuhkan argumen yang kuat untuk mendukung pendapat yang kita utarakan, maka  akan lebih baik jika kita memiliki bukunya sendiri, sehingga jelas sumbernya jika nanti dipertanyakan.

Aku juga bersyukur melalui salah satu buku yang aku beli  secara tak terduga ini, aku jadi mengerti cara membuat blog. Hasilnya ya lihat saja blog sederhanaku ini; . http://wits-inilahhidup.blogspot.com/.  Blog ini aku bangun setelah membaca buku yang menjelaskan cukup detail cara membuat blogspot dan seluk beluknya. Aku belajar sambil mempraktekkan sendiri secara mandiri. Memang blogku masih cukup natural, tapi bagiku bukan masalah, yang penting aku bisa membagi apa yang telah aku tulis buat orang lain.

Dan, aku tak tahu apakah secara kebetulan  atau bagaimana, belum lama aktif di dunia blogging, tiba-tiba pihak buzzcity tertarik dengan postingan yang aku buat, dan menawarkan kerjasama denganku. Tanpa aku ketahui sebelumnya, pihak buzzcity telah membuatkan  situs mobile untuk blog aku ini, aku baru mengetahuinya setelah membaca komentar mobilizer pada postinganku yang berjudul “waktu”. Sepenuhnya aku katakan,  aku jadi senang bila ada respon yang positip begini. Aku jadi lebih termotivasi  untuk memposting tulisan yang jauh lebih baik dari yang telah ada. Seakan ada suntikan segar dari luar sana. Dan lagi bagiku, menulis itu juga salah satu obat mengurangi stress. Dengan menulis, aku mencoba membagi ide di otakku yang masih belum terangkai dengan jelas menjadi rangkaian paragraf yang tertulis secara berurutan sehingga dapat diambil sarinya oleh pembaca. Jadi, aku seakan bercerita, tapi media penyalurannya berupa tulisan bukan kata-kata layaknya orang sedang curhat.

Memang benar ada ungkapan bijak yang mengatakan bahwa kejadiannya itu tak penting, tetapi bagaimana cara kita menyikapi kejadian tersebut. Sama kasusnya dengan apa yang aku paparkan pada tulisanku ini, meski kejadiannya tak terduga sebelumnya, namun banyak hikmah yang aku petik.

Ya, begitulah,.. merenungkan dan mengevaluasi kejadian yang telah berlalu itu perlu dilakukan oleh setiap individu agar kehidupannya di masa mendatang jauh lebih baik. Siapa lagi yang akan membenahi diri kita,  kalau bukan diri kita sendiri. Semakin bijak kita menyikapi kejadian yang telah berlalu, maka insyaallah kita juga akan menjadi manusia yang lebih bijak.

Sebenarnya banyak hal dari diriku yang perlu dibenahi, namun pada tulisanku ini, aku lebih memfokuskan pada tindakan belanja yang tak terduga ini, khususnya di sepanjang tahun 2010. Semoga apa yang aku tulis ini dapat dipetik sisi positipnya.


*Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp.
READMORE - Hikmah dibalik salah satu kejadian hidupku