Menjadi lebih baik, itu pilihan. Menjadi lebih buruk itupun pilihan. Stay di tempat tanpa perubahan apapun, itu juga pilihan. Namun, perlu diingat bahwa menjalani kehidupan ini adalah suatu keharusan. Meski demikian, jika kita tak ingin menjalani kehidupan dengan sungguh-sungguh tak akan ada yang memaksa kok, (eits…klo pun ada, keputusan ada di tangan kita. Bener nggak?)toh semua kita yang menanggungnya, seratus persen ada pada diri kita,ok
Walaupun begitu, menyadari sepenuhnya atau tidak, kita semua turun ke dunia sebagai insan pilihan. Jadi, sayangkan klo menyia-nyiakan hidup yang hanya satu kali ini?
O.k. Berarti hidup hanya satu kali kan?
Mau berbuat apapun?Mm…boleh,boleh saja. Namun, jangan seenaknya berbuat apapun.
Emang kenapa?
Jawabnya simple, karena apapun yang kita lakukan akan ada pertanggungjawabannya, apalagi kita hidup di lingkungan sosial.
Emang kenapa klo di lingkungan sosial?
Ya, otomatis karena di komunitas sosial, pasti ada perangkat sosial yang mengatur, mulai dari peraturan tertulis serta norma-norma dalam kehidupan yang jika dilanggar efeknya tak kalah “heboh” di banding peraturan tertulis.
Lalu…apa sobat sadar dengan keadaan ini?
Ya, jawabannya mungkin “iya”, mungkin juga “tidak”, namun klo boleh kasih saran, jawabannya sebaiknya “iya”. Ini disebabkan karena setiap kesalahan yang kita lakukan pasti ada sanksinya. Dan, hukuman sosial itu sanksinya jauh lebih berat dibanding jika melanggar peraturan tertulis entah itu yang berkaitan dengan hukum pidana maupun perdata.
Sebagai contoh, jika melakukan kesalahan atau hal yang melanggar hukum, pasti pelaku mendapat hukuman berupa tahanan atau sanksi berupa denda sesuai yang telah ditetapkan, nah..setelah denda dibayar atau masa tahanan usai, maka usai sudah penderitaan itu.
Akan tetapi, apa yang terjadi jika si mantan narapidana kembali ke masyarakat?Semudah itukah ia bebas dari sanksi sosial, sebagaimana ia telah bebas dari sanksi hukum?
Realita, di masyarakat menunjukan bahwa begitu sulitnya mengembalikan citra diri yang telah tergores di komunitas sosial. Mungkin, si narapidana ini telah insyaf setelah “ditatar” dalam tahanan, namun pertanyaannya apakah semudah itu masyarakat mau menerimanya, apalagi yang namanya masyarakat itu kan kumpulan individu yang memiliki keragaman karakter serta pola pikir?
Makanya, sebelum memilih dalam hidup ini, entah menjadi lebih baikkah, atau lebih burukkah atau apapun yang ingin kita lakukan dalam hidup ini, harus dipikirkan efeknya, yang memang selalu terjadi belakangan, ok
READMORE - Pilihan
Tuesday, September 7, 2010
Monday, August 30, 2010
Kemandirian
Dulu, ketika masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, saya sering sekali
mendengar om atau tante saya yang berujar jika keponakannya terlalu manja. Satu
kalimat yang masih membekas diingatan saya, “Eh, kamu sudah besar kok masih gak
mandiri.”
Ya, begitulah cara beliau mengoreksi tingkah anak-anak yang seharusnya
telah mandiri, namun justru bertingkah sebaliknya.
Laen lagi mama, beliau mengindikasikan kata “mandiri” dengan kepanjangan
“mandi sendiri”. Ah, ada-ada saja plesetan mama untuk 7 huruf tersebut:)
Dulu, saya belum memahami betul implementasi kata “mandiri” tersebut pada
tiap individu, baru setelah tamat kuliah dan bekerja dan memahami benar arti
perjuangan hidup agar dapat survive
dalam kehidupan ini, saya akhirnya menyadari sekali dahsyatnya “kemandirian”
itu. Barangkali, sedikit telat, but it’s ok. Saya ingat idiom yang bilang “better
late than never”. Atau sederhananya “terlambat itu jauh lebih baik
dibandingkan tidak sama sekali”. Setuju? (harus ya :D)
O.k berkaitan dengan kata “kemandirian” yang dibahas barusan, menurut
pemikiran sederhana saya (ini menurut saya loh), keterbatasan terkadang membuat
seseorang lebih mandiri dari usianya. Contoh sederhananya adalah anak yang
berasal dari kalangan financial lemah itu lebih mandiri dibandingkan anak-anak
yang berasal dari golongan atas yang kehidupannya selalu diayomi oleh orang
tua.
Pada kasus anak-anak dari golongan ekonomi lemah, kerasnya hidup membuat
mereka dewasa sebelum waktunya. Meski usia mereka masih belia, tetapi tantangan
keadaan seakan “memaksa” mereka berpikir keras untuk maju, guna menghidupi diri
mereka sendiri (Ssst.., opini ini belum tentu berlaku pada semua anak dari
golongan financial lemah ya, semua tergantung dari pola pikir mereka juga).
Saya dapat menyimpulkan bahwa kerasnya hidup membuat seseorang lebih
mandiri dari usianya pada kasus anak-anak golongan ekonomi lemah karena realita
yang ada di hadapan saya. Sebut saja Arman, teman dekat saya. Perjalanan hidupnya membuat saya berdecak kagum.
Bagaimana tidak, mulai dari SMP sampai perguruan tinggi, ia biayai dari
keringatnya sendiri. Wow..fantastik bukan?
Saya pribadi begitu tercengang. Bagaimana bisa saya pikir, mengingat usia
tamat Sekolah dasar itu masih hijau sekali. Kebanyakan di usia tersebut, tak
semua anak memiliki pemikiran untuk belajar, jika tidak di arahkan oleh kedua
orang tua mereka. Akan tetapi, keadaan yang berbanding terbalik terjadi pada
Arman. Arman, sahabat saya itu bukan hanya tak ada yang mengarahkan, tetapi
dengan keinginan ia sendiri, ia berpikir keras untuk membiayai sekolahnya dan
bercita-cita untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi.
Waktu itu, saya bertanya “Emang, apa yang dapat Kamu lakukan agar
memperoleh uang?”. Jawab beliau, “apapun saya lakukan, asal saya mampu, mula
dari mencuci mobil, mengumpulkan barang bekas, membantu membawa belanjaan di
pasar, hingga bersih-bersih di rumah makan(bahkan sampai mencuci piring)”.
Subhanallah…mendengar jawaban beliau saya begitu terhenyuh, pergulatan
hidup yang tak musdah untuk anak seusia beliau saat itu.
Kemudian, saya kembali bertanya
kepada Arman, “Kok di usiamu yang masih terbilang anak-anak itu, kamu bisa
memiliki pemikiran sangat jauh ke depan, apa alasannya?”
Dengan senyum mengambang di wajahnya, ia mengatakan “ketidaknyamanan hidup
yang kualami, memaksaku untuk mandiri demi kehidupan yang jauh lebih baik.
Memang, aku memiliki orang tua, namun orang tuaku tak mampu membiayai
pendidikanku. Makanya aku sendirilah yang harus berusaha mandiri agar mampu
mengenyam pendidikan tinggi”.
Jawaban Arman membuat saya akhirnya menyadari betul bahwa terkadang
kemandirian itu terjadi karena pola keadaan yang memaksanya bersikap demikian.
Mungkin, akan beda hasilnya, jika keadaannya dibalik. Si anak berasal dari
keluarga mapan dengan fasilitas hidup yang full. Otomatis, dengan merasa
hidupnya difasilitasi ditambah control yang kurang dari orang tuanya yang super
sibuk, jadilah si anak hidup semau-maunya dan serba malas. Dia berpikir,
daripada belajar lebih baik main, buat apa capek-capek sekolah toh hidupnya
juga enak. (maaf, ini hanya sebagai perbandingan saja, namun tak semua anak
dari keluarga mapan begini kok, sekali lagi hanya untuk perbandingan saja,
bukan berarti merepresentasikan semua keadaan anak orang kaya, Ok:).
Monday, August 23, 2010
Menjadi Kaya Tak Bahagia
Banyak orang yang bercita-cita menjadi orang kaya. Hidup berkecukupan, begitu nikmat. Namun, setelah mereka mencapai di titik itu apakah mereka bahagia? Jawabannya tentu tergantung dari tiap individu.
Sekedar berbagi sedikit, pada beberapa acara reality show di televisi, serta fenomena di sekitar kita, kita dapat merenungkan dan berpikir bahwa tak selamanya harta yang melimpah itu membawa faedah yang berujung pada kebahagiaan. Tak percaya?
Coba diingat lagi! Dari acara reality show dan fenomena di sekitar kita tersebut, berapa banyak di istana orang kaya ini terjadi linangan airmata?Bingung maksudnya?
Begini, coba ditelisik kembali ingatan kita!Sudah ingat?O.k. Banyak terjadi perselingkuhan,penggunaa narkoba dan beberapa tindakan amoral yang dilakukan oleh mereka dari kalangan orang kaya tersebut. Lalu, pertanyaannya mengapa hal ini dapat terjadi?
Kalau menurut saya, ini disebabkan karena mereka tak bersyukur dengan apa yang telah mereka miliki. Kekayaan yang dititipkan kepada mereka, justru dijadikan celah untuk berbuat maksiat. Padahal, seharusnya mereka menyadari bahwa harta yang dibawa pada hal-hal yang menyimpang, mudharat, takkan bertahan lama. Kalaupun harta itu masih bertahan, akan tetapi harta yang sesungguhnya, yaitu “kebahagiaan” tak pernah mereka dapatkan. Yang mereka alami justru masalah demi masalah yang bertambah pelik, pertengkaran demi pertengkaran yang menyesatkan pikiran dan mengganggu ketenangan hati. Kalau sudah begitu apakah kebahagiaan akan didapatkan??
Subscribe to:
Posts (Atom)